Beauty Diary by Rahma

5 Hal Ter-Mainstream di Lebaran Indonesia

| on
June 12, 2017
rahmaediary.com

Hi, guys! Ini judulnya memang terlalu jauh ke masa depan. Baru juga pertengahan puasa tapi udah manas-manasin masalah lebaran. hehehe Habis gimana ya, sejak awal puasa, iklan-iklan di TV mah udah mau lebaran aja. Jadi keingatan lebaran deh akhirnya.

Kebanyakan orang melihat bahwa lebaran atau Idul Fitri itu berada di akhir bulan Ramadhan. Padahal, lebaran ada di AWAL syawal. . . Gak salah sih, sama-sama aja. Tapi biasanya beda cara pandang, beda juga memaknainya.

Kalau aku sendiri lebih senang melihat lebaran itu sebagai awal. Awal untuk membentuk kebiasaan baik. Awal memakai 'baju' baru. Di sini adalah momen untuk lebih memikirkan peningkatan kualitas ibadah hidup di masa pasca Ramadhan, bukan hanya sekedar memikirkan dunia. Namun, ya sebagai manusia biasa tentulah sangat sulit untuk tidak memikirkan keduniaan. Ada saja hal-hal 'fisik' yang selalu terpikirkan manakala lebaran menjelang.

Di sini aku mencoba untuk menyebutkan 5 hal yang khas pada momen lebaran. Kegiatan-kegiatan yang sering muncul pas lebaran di sekitar tempat tinggalku. Cekidot!

5. CAT RUMAH BARU

Di kalian ada gak sih kegiatan ngecat rumah menjelang lebaran? Di daerahku masih banyak yang begini. Supaya kelihatan bagus saat lebaran, rumahnya dikasih warna baru. Tapi keluargaku sendiri tidak memberikan perhatian khusus untuk cat baru ini. Rumah dicat kalau memang catnya sudah luntur, tidak harus menunggu lebaran tiba kemudian dicat. Kecuali emak (nenek).

Sebelum Ramadhan, Bapaku ngecat dak rumah karena temboknya terkelupas dan berubah jadi hitam. Nah, kalau sudah begitu kan gak enak dilihat dan akhirnya harus dicat ulang. Eh, disangka emak, Bapak ngecat rumah itu untuk persiapan lebaran. Jadinya emak ikutan-ikutan ngecat tembok rumahnya juga. Padahal temboknya masih bagus, warnanya belum luntur juga. Panas kayaknya. tetangga udah ngecat kok kita belum. Ah dasar, udah tua mah balik lagi jadi anak-anak.

4. KETUPAT

oke, sepertinya ketupat adalah menu wajib saat lebaran. Memang di berbagai daerah ada menu khas lebaranya masing-masing, tapi kebanyakan masyarakat Indonesia memilih ketupat sebagai menu khasnya. Aku sendiri paling seneng masak ketupat di rumah. Tiap tahun pasti pesan puluhan bungkus ketupat dan selalu dimasak di atas tungku.

Ya, walaupun isinya seperti lontong, bentuknya yang khas itu yang memberikan rasa berbeda. Sulit sekali kalau harus membayangkan ketupat dengan bentuk yang lain. hmmm, sulit. pokoknya kalau bentuknya gak belah ketupat, ya bukan ketupat.

Di sini ketupat temenya sama kari ayam. . . kalau kalian sama apa? Sendirian? yah jomblo wkwkwk

3. KUE LEBARAN

Ini aku paling ga suka karena ibu seringnya bikin kue lebaran yang manis-manis. I don't really like sweets. Kue lebaran mainstream di rumahku ada nastar dan putri salju! I think it's a must. Padahal aku udah bosen sama mereka berdua. Inginya sih kue keju gitu yang asin-asin, tapi ibu mah keukeuh ingin bikinya itu aja. Urusan kue lain mah disuruh beli sendiri.

Sekarang mending banget cuma ada dua jenis kue yang dibikin dan gak terlalu banyak juga jumlahnya. Paling totalnya ada 6 toples. ENAM. Mendingan! Dulu-dulu waktu aku kecil, mungkin ada sekitar tiga sampai empat toples untuk tiap jenis kue. Kalau bikin empat jenis kue? berapa belas toples tuh.

Bukan apa-apa sih. Masalahnya ada di proses membuatnya. Bikin aku pegel lah. Kue salju lebih mending karena ada cetakanya. Nah, kue nastar, kue favorite ibu, itu kita cetak manual. Awal bikin, bentuknya masih kece membulat lucu, kayak gunung gitu. Lama-lama pegel, bentuknya berubah bulet kaya doraemon. Dan ibu gak mau kalau bentuknya gak kayak gunung. Proses membuat kue yang lama dan melelahkan itu, kadang malah membuat ibu dan aku berantem.

Gak sedikit juga orang kelelahan gara-gara membuat kue, contohnya emak aku. lagi-lagi emak aku sebut karena beda banget cara pikirnya sama keluargaku dan bisa diambil hikmahnya sebagai pengingat ketika tua nanti.

Emak itu paling riweuh dalam urusan kue, pernah sampai sakit karena kepikiran belum bikin kue lebaran. Seminggu atau dua minggu sebelum lebaran pokoknya kue udah harus beres. Barulah beliau tenang. Eh padahal puasanya enggak ikutan wkwkwk

Kue memang penting untuk menjamu tamu yang berkunjung, tapi jika prosesnya memberatkan lebih baik tidak memaksakan. Buatlah sajian yang memang kita mampu membuatnya.


2. KUMPUL KELUARGA

Ini hal utama dari lebaran, bersilaturahmi dengan keluarga besar. Biasanya aku silaturahmi dulu dengan keluarga besar ibu di rumah emak. Syukurlah aku gak perlu pulang kampung karena rumah nenek bersebelahan ehehehe. Bahagia ya kalau sudah berkumpul dengan keluarga besar, kecuali kalau sudah muncul pertanyaan "kapan nikah?" dari para bibi hahahahaha cariin calonya atuh Bi! 

Setelah selesai acara di emak, barulah aku pergi ke rumah keluarga Bapak. Masih di Garut juga cuma beda kecamatan. Jarak tempuhnya sekitar 45 menit, tapi kalau lagi musim lebaran bisa sampai 2 jam. Tahu kan ya, orang dari kota-kota gede balik ke kampung semua. Jadilah kampung-kampung pada macet.

Nah, beberapa keluarga ada yang lebih senang berkumpul di luar rumah. Seperti berkumpul di tempat wisata atau restauran. Kadang mereka juga melakukan tour keluarga keluar kota. Keluargaku sendiri lebih memilih berkumpul di rumah. Emak sudah usia lanjut, sekitar 83 tahunan sekarang. Fisiknya tidak kuat untuk berpergian jauh. 

Bersilaturahmi pada orang tua adalah hal yang utama sebelum bersilaturahmi ke yang lain. Utamakan juga bersilaturahmi pada orang-orang yang masih hidup. Itu sih salah satu hal yang selalu Bapak ingatkan pada kami semua tentang silaturahmi.

1. BAJU LEBARAN

Ini nih hal yang paling banyak dibahas menjelang lebaran. Bahkan sebelum Ramadhan pun, baju lebaran mah udah dipikirin. Ntah kenapa orang-orang khususnya wanita heboh banget sama baju baru untuk lebaran. Maksud baju baru saat idul fitri itu kan bukan baju fisik. 

Setelah kita berpuasa dan melakukan kegiatan amal baik selama bulan Ramadhan, maka saat idul fitri, kita itu bersih, kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan. Kebiasan lama yang buruk (baju lama) diganti dengan kebiasaan baru yang shalih (baju baru). Dan inilah orang-orang. . . heboh dengan baju lebaran

Padahal waktu dulu aku gitu juga ding ehehee ya kan waktu kecil aja, sekarang mah enggak. Karena dipikir-pikir lagi beli baju mah gampang, yang susah mah mengeluarkan baju dari lemari alias berbagi. aduuuh. Mengikuti perintah Tuhan itu lebih sulit daripada ngikutin nafsu.

Untunglah, semakin gede aku makin gak suka keluar rumah dan memandang musim lebaran itu adalah neraka saat berbelanja. *untung gak sih?* ya menurut aku mah untung karena temen-temen ceweku banyak banget yang suka galau di status sosial medianya gara-gara gak dikasih budget untuk baju lebaran sama suaminya. Kalau perlu baju juga aku belinya 2-3 bulan sebelum lebaran.

Udah kebayang kok toko-toko pas musim lebaran kayak apa. errrgghh. . . berasa masuk ke sarang lebah. Namun, perempuan itu pantang menyerah. Pantang pulang sebelum dapat baju diskonan hahaha. Anak kemana, ibunya sibuk ngacak-ngacak baju obralan. Ya Allah. . . 

Baru juga buka 30 menit, antrian di kasir udah kayak ular piton. ah pokoknya lihat gerbang tokonya udah gak suka. Gerah. Gak sedikit juga orang-orang membatalkan puasanya karena kelelahan saat berbelanja baju lebaran. IRONIS.

Mungkin, alternatif lain adalah dengan berbelanja baju lebaran secara online. Jadi gak usah berdesak-desakan di toko. Apalagi rebutan baju sama yang lain. Ini opsi yang lebih mending, tapi harus pinter-pinter mencari ukuran dan toko online terpercaya ya!

Overall, ada atau tidak ada baju baru, lebaran mah jadi-jadi aja, sah-sah aja. Tuhan tidak melihat seberapa mewah dan seberapa mahal baju yang kamu kenakan. Berapa banyak amal baik yang telah kamu kerjakan itu yang ditanyakan! 

Yuk ahh kita sibukan hari-hari dengan ibadah. Lupakan sejenak keduniawiaan.
Selamat menjalankan ibadah puasa :)


Follow this blog via GFC
Thank you ^^
XOXO
6 comments on "5 Hal Ter-Mainstream di Lebaran Indonesia"
  1. waktu kecil aku lumayan sering bantu ibu bikin kuker lebaran. trus tahun kemarin pengen nyoba bikin sendiri. duh ternyata ribet dan capeek. heu

    ReplyDelete
    Replies
    1. begitu lah, kue emang enak pas dimakan, tp butuh kerja keras untuk membuatnya. . .

      Delete
  2. bener banget nih, dirumahku tuh selalu bikin kue lebaran tiap lebaran, makan ketupat tiap lebaran juga haha

    lindadevip.blogspot.co.id

    ReplyDelete
  3. betul-betul mainstream ya? Tapi kalau saya ada yang gak ada di tiap lebaran, misalnya kumpul keluarga, ganti cat atau baju baru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow.. Klo di sini kumpul keluarga is always.. ��

      Delete

Terima kasih sudah berkomentar. Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Tinggalkan link blog di "name/url", bukan link artikel. Link hidup di kolom komentar langsung dihapus :)

Custom Post Signature