Saya mau berbagi cerita tentang service layar Samsung S22 Ultra non-resmi yang berujung nyesek. I know it could be a bad review, so I won’t mention the place. Fokus aja pada perjalanan perbaikan dan hikmah yang bisa dipetik. I just wanted my anger and disappointment to go away faster.
Latar Penyakit HP
Kata orang penyakit umum hp Samsung yang flagship adalah si garis hijau pada layar. Awalnya gak percaya, tapi akhirnya after 2 years, my phone finally got it. Bayi saya kebetulan mulai aktif melempar dan menekan-nekan layar hp yang kemungkinan besar pemicu utama si garis hijau. I said “probably” because there might be other factors that contributed, such as overheat.
Bisa jadi setelah sekian bulan disiksa oleh tangan anak saya, layar hp ini menyerah ketika panas berlebih melanda. Akhirnya, sesaat setelah upgrade software, satu garis hijau itu muncul. Kemudian ditepuk-tepuk oleh anak dan garisnya beranak pinak sampai 4.
Sampai sana, I could handle the problem as long as the phone provided my basic needs for communication and photography. The lines were super annoying but I tried to be super patient. Saya pernah tanya ke service resmi Samsung, ternyata biaya untuk perbaikan layarnya sekitar 4 juta. Lumayan berat. Duitnya baru ada sejuta waktu itu hehehe
The big problem appeared just a week ago, just before long weekend, on 15th of January 2026. Ketika sedang scrolling, tiba-tiba layar berkedip, menggelap, menjadi ungu sesaat, dan langsung blank putih hanya dalam hitungan per sekian detik. That’s the end. Saya tidak bisa melakukan apapun. Just panic coz all of my money and baby’s pics were on that phone.
Datang ke Tempat Service Rekomendasi
Ada temen saudara yang bisa perbaiki. Katanya sih trusted. Sayangnya, dia mau liburan dan rekomendasiin suatu tempat service yang masih buka. “Rekomendasi sesama teknisi mungkin bagus juga tuh.” mikirnya gitu.
Saya gak langsung ke sana karena harus coba login ke m-banking dan aplikasi-aplikasi penting dulu di Ipad. Baru lah sore sekitar jam 5an saya sampai di tempat rekomendasi yang dimaksud.
Day 1 dengan Tukang Service
Pas datang sore sekitar jam 5-an, tukang service-nya sudah mengenali suami saya karena ada info rekomendasi temen saudara tadi. Saya nunggu di mobil karena lagi menyusui. Trus kira-kira tukang servicenya bilang gini,
Barangnya mah ada, A (ke suami saya), bisa sehari beres kok pengerjaannya (gak lama). Cuma saya ini mau keluar kota dulu mau tutup. Paling nanti Senin buka lagi. — Itu perkataan yang saya dapat lewat suami.
Asumsi saya kalau dia bilang barangnya ada berarti spare part layar Samsung S22 Ultra tersedia, meskipun bukan ori minimal mendekati device yang saya punya dan dia juga tukang hp jadi saya percaya aja dia paham sama kualitas yang diperlukan.
Termasuk harga, dia ngasih 2,5 juta. Okay lah. Sekitar 40% lebih murah dari harga resmi masih masuk akal. Why? Otak saya langsung menyamakan service hp dengan pengalaman service mobil kemarin.
Harga di bengkel non-resmi jauh lebih murah dibanding yang resmi, tapi hasilnya mesin kembali bagus seperti semula. Kalau ada tampilan yang beda, si mekaniknya juga info dulu, mulai dari kondisi barang pengganti, prosesnya gimana sampai efek atau kekurangannya apa. Jadi kita dikasih kesiapan financial dan mental untuk menerima hasil kerjaanya. Kira-kira itu juga yang saya harapkan dari teknisi hp ini.
Day 2,3,4 Nungguin Tukang Service Liburan
Kami nunggu tukang service liburan. Kenapa gak cari yang lain? Saya masih percaya dengan rekomendasi teman saudara. Kalau ada “link” atau kenalan biasanya kan pegawai sering memberikan perhatian lebih dengan pengerjaannya, lebih rapi atau profesional.
Sekarang agak kesel juga ke diri sendiri kenapa ga mencari second opinion gitu. Barang kali ada tempat lain yang masih buka pas musim libur.
Day 5 dengan Tukang Service
Kami datang ke tempat service lagi agak siangan jam 11. Disambut sama orang yang beda. Suami jelasin situasi, trus dia agak bingung gitu. Kayak ga bisa ngejelasin soalnya dia bukan bagian teknis. Si teknisi masih tumbang pasca liburan.
Mungkin dia datangnya siangan katanya. Okay, kami pergi dulu. Hpnya gak dititip soalnya kan beda orang, takut ada miskomunikasi nantinya.
Kebetulan kami ada urusan lain di hari itu, baru bisa datang lagi sore jam 4an sekalian mau ke RS. Ketemu lah dengan si teknisi di hari pertama. Ke suami bilangnya kira-kira begini,
Iya, A. Ini bisa beres sekarang, tapi ini saya lagi beres-beres dulu. Mungkin nanti maghrib (sekitar jam 6 sore) baru selesai.
Okay, no problem. Hpnya kami tinggal. Lanjut ke RS dan jalan-jalan.
Pas maghrib kami udah parkir deket tempat service, eh baru juga mau turun ada WA dari teknisinya. Dia info,
A, ini mungkin akan selesai besok jam 11-an.
Saya lupa alasan utamanya dia apa (chatnya ada di hp suami). Mulai tuh, kami agak gak sreg. Omongannya enteng banget di awal, tapi mundur lain hari.
Day 6 dengan Tukang Service
A, ini layarnya udah coba saya pasang, tapi jelek. Saya mau nyari barang lagi. Order dari Tangerang biar layarnya OLED. Kira-kira selesai 3 hari lagi.
Di titik ini hati saya sudah mulai teriak, ini gak bakalan bener! Bingung dengan kata-kata “layar jelek”, lah apa gak diliat dulu spek sama compability-nya? Kok main bongkar pasang gitu.
Mau ambil hp, tapi kondisi udah dibongkar. Gak diambil, hati saya badmood. Mau complain pun, saya takut hp diapa-apain. Ada aja ujiannya.
Udah lah pasrah… ikutin alur si teknisi aja.
Day 9 Hasil Tukang Service
Kali ini hati saya agak senang. Perkiraan hari Jumat selesai, ternyata di hari Kamis si teknisi info, barang udah ready. Kami datang sore sekalian beli makan malam.
Jreng… jreng… jreng jadi apa? Samsung S22 Ultra… Hp flagship dari Samsung…. Berubah jadi HP KW-KW an. Wkwkwkwkwkwk pingin ngetawain diri sendiri dan nangis kejer. “Hp aing kaya Hp KW Prindavan.”
Saya gak nyangka. Layar KW yang dia pasang BENER-BENER KW. Layar kan menyatu dengan frame body bagian atas. Nah, si LCD KW ini warna framenya hitam, beda warna pula sama part bawah yang asli (warna ijo).
Hp saya jadi dual tone 😅
Hati saya langsung istighfar, “Ya Allah, ya Allah, ya Allah ini hp benar-benar gak ada nilai estetiknya.” Pingin nangis banget. Saya bergumam, “kok layarnya jadi ada warna hitam di pinggir-pinggirnya.” Ditanyain sama suami ke si teknisi, dia jawab,
Ya namanya juga KW, A. Gak akan sama percis.
Fix, saya memiliki ekspektasi berlebihan. Saya pikir KW pun istilahnya ya bakal KW super gitu.
Kesan flagship di hp ini bener-bener udah hilang. Fungsi utama kaya sidik jari berjalan baik, tapi experience dan kinclongnya layar yang biasa saya tatap gak bisa balik lagi. Kalau lagi nonton Youtube kentara banget bedanya, warna hitam gak hitam banget, warna putih keliatan gak rata—ada shadow tipis.
Handfeel-nya pun udah gak mulus. Terasa banget bongkarannya. Banyak bagian pinggiran yang gak rapat. Jadi paham kenapa Samsung kemarin nawarin 4 juta buat LCDnya.
Mereka ngasih garansi 1 minggu untuk layarnya, tapi saya sudah bulatkan tekad. Gak mau nebus garansi kalau ada apa-apa. Udah trust issue.
Pelajaran
What I learned from this experience?
Perbaikan non-resmi memiliki risiko tinggi karena tidak berstandar pada produsen. Usahakan banyak tanya untuk mencocokkan pengetahuan awam kita dengan prosedur yang akan dilakukan teknisi, plus minta info risiko atau kekurangan yang akan muncul.
Jika hati udah gak sreg dari awal dan punya ekspektasi tinggi, mending ngumpulin duit buat perbaikan resmi atau beli hp lagi.
Gitu aja sih, hikmah yang saya ambil. Saya ikhlasin duit 2,5 jutanya. Itu udah jadi rezeki si tukang service.
Semoga dengan keburikan LCD KW ini saya bisa mengurangi screen time dan memberikan contoh yang baik pada anak biar gak “hp teroooos.”

0 comments