Curhat dong, Operasi Abses


Akhir November 2020, aku mendapati ketiak sebelah kiri sakit seperti ada jerawat. Sekarang udah enggak pernah cabut rambut ketiak, jadi ngerasa aneh aja kalau ada infeksi. Terlebih, saat dilihat, kulit normal-normal aja. Tidak ada benjolan kemerahan seperti jerawat.

Hanya ada rasa gatal. Itu yang membuat aku yakin akan keberadaan sang jerawat. Biar cepat sembuh, aku pakaikan minyak kayu putih dengan harapan bisa langsung pecah di keesokan hari. Sayangnya, kulit hanya memerah tanpa terlihat nanah atau mata, tanda si jerawat matang.

"hmmm... tunggu beberapa hari lagi deh." aku oleskan minyak kayu putih lagi dan lagi. Hasilnya, masih sama. Sakitnya masih tetap ada. Penasaran, aku coba sentuh dan agak tekan keras. Kaget 😱 Rasanya ada benjolan di bawah kulit yang agak besar dan keras. Mirip jerawat batu.

Jerawat batu memang agak bandel kan. Jadi, aku tunggu lebih lama lagi. Nanti juga hilang sendiri. Sayangnya, setelah satu bulan menunggu, ketiak masih sakit dan bejolan tidak hilang.

Memburuk

Aku penasaran kenapa jerawatnya enggak matang dan gak ada matanya. Aku pijit-pijit juga dengan harapan nanah si jerawat naik ke permukaan dan pecah. 

B-O-D-O-H. Ketiaku malah membengkak πŸ˜… sakitnya meluas ke daerah lengan atas dan dada.

Ke dokter umum

Januari 2021, akhirnya aku ke dokter karena sakit. Dokter bilang ini abses/bisul. Ada infeksi di kulit bagian dalam. Kemudian terjadi penumpukan nanah. Karena infeksinya di dalam jadi enggak ada mata yang muncul di permukaan kulit. 

Dokter meresepkan antibiotik untuk satu minggu. Setelah obat beres, warna kulitnya berubah kehitaman, tapi benjolannya masih ada dan masih terasa sakit terutama jika terhimpit saat tidur miring ke kiri.

Minggu depannya aku ke dokter lagi. Dikasih antibiotik yang lain. Hasilnya masih sama. Sekali lagi aku coba ke dokter. Sekali lagi juga dokter ngasih antibiotik, "kalau masih sama, kamu pergi ke dokter bedah ya."

Hasilnya masih sama dan aku ganti dokter. 

Ke dokter bedah

Jalan terakhir aku pergi ke dokter bedah di akhir Februari. Aku ceritakan dari A sampai Z. Dokternya bilang, 

"hmmmm saya enggak akan kasih antibiotik dulu ya. Kita usg dulu untuk mencari tahu apakah ini abses atau bukan. Kalau benar abses, kita cari tahu kedalamannya segimana. Kalau enggak dalam, kita pakai obat lagi. Kalau dalam, mau gak mau operasi."

Kaget kalau dengar kata operasi. Perih. Ya, walaupun dibius lokal tetap aja kan setelahnya nyut-nyutan.

Awal Maret aku usg dan konsul lagi ke dokter. 

Dokter bilang, "hmmmmm ini mah harus operasi ya. Tenang aja. Ini operasi kecil kok." Legaaaaa πŸ˜… 

"dibius lokal kan, dok?"

"Dibius total aja ya, biar saya enak ngebersihinnya. Tapi jangan kaget. Luka operasinya nanti enggak dijahit. Dibiarin terbuka biar nanahnya bisa dibersihkan lagi."

😢😢😢😢😢😢😢 "oh, iya dok." 

Bisul doang dioperasi? Enggak keren. Itu yang dipikiran aku sih. 

Agak khawatir juga. Belum pernah kehilangan kesadaran selain karena tidur. Pingsan juga belum pernah. Takutnya setelah dibius, aku enggak bangun lagi. Gimana dong?

Karena ingin menghilangkan si abses ini, mau gak mau setuju aja dioperasi. Di hari itu juga aku rontgen dan tes darah untuk persiapan operasi keesokan harinya. Semakin cepat, semakin baik.

Oia, tak lupa melakukan PCR. Pandemi covid, cuy. Apa-apa tes dulu sebelum tindakan. Sayangnya, tes ini biayanya terpisah dari operasi. Males ihhh bayar-bayar lagi. Pas ngambil sample di hidung pun rasanya sakit banget. Enggak mau gitu-gitu lagi. 

Proses operasi

Tiba lah hari operasi. Aku masuk ruang persiapan. Pakai baju operasi. Trus diinfus. Ini juga pertama kalinya aku diinfus. Ihhh enggak enak juga rasanya. 

30 menit dari ruang persiapan, dokter anastesi beserta perawatnya udah siap. Aku dibawa ke ruang operasi. Dokter anastesinya nanya-nanya mulu. Buat cek kesadaran gitu kali ya. Tapi kadang aku enggak respon soalnya males jawab, "hmmm? apa? oh, iya." Gitu aja. Kadang ngangguk-ngangguk aja.

"Ibu... (dia panggil aku ibu dong - emang muka aku tua sih) saya ABCDE. saya yang akan menganestesi ibu. ini saya menyuntikan obat biusnya ke sini (selang infus), ya. Kita mulai, ya...." 

Nah aku dengar suara-suara mesin gitu tiiit tiiiit tiiit... trus ada gemuruh mesin juga kaya mesin apa ya? aneh lah.

Pas anastesi dimulai tangan aku yang diinfus juga sakit banget. Aku coba tarik napas aja untuk nahan sakit. Sambil merem juga. 

Tarik nafas sambil merem. Keluarkan. Buka mata. 

Nafas-merem. Buka mata. 

Nafas-merem. Pas buka mata terdengar suara, "operasinya sudah beres ibu. Bu Rahma, sudah beres, Bu."

Apaaaa? Gitu doang? Kapan aku dioperasi? πŸ˜‚ Masuk pukul setengah 12 selesai pukul 1 siang. Rasanya cuma 1 detik.

Aku mau coba merespon dengan kata "iya". Tapi mulutku susah digerakan kaya gigit sesuatu. Trus perawatnya ambil alat yang aku gigit. Aku coba lagi bilang "iya", tapi susah banget gerakin mulut. Yang keluar cuma, "eeerrrrrggggh.."

Itu kondisi mata masih merem karena susah juga buat dibuka. Aku coba ngomong lagi. Tetap. Yang keluar cuma "eeerrrrhhhjj hah hah" cuma bisa bilang "hah". Itu pun udah dengan sekuat tenaga. Semua anggota badan rasanya berat aja. Gak bisa digerakin. 

Aku kemudian dibawa ke ruang pemulihan. Pendengaran dan kesadaran sudah kembali. Aku bisa mendengar suara ibu dan kakak. Tapi mata dan badan lainnya enggak bisa digerakan.

Beberapa waktu kemudian, perlahan aku udah mulai bisa gerakin tangan. Ngomong masih enggak bisa. Padahal aku pingin banget bilang, "ibuuuu pusing, ingin muntah. minta keresek." 

Tersiksa ya selepas operasi tuh. Enggak kaya di film-film yang habis dibius bisa langsung bangun, buka selang infusan, dan kabur dari RS.

Sabar. Tangan udah semakin ringan. Indera perasa udah semakin baik. Walaupun lirih, akhirnya aku bisa ngomong, "Teh (kakak), ke.....re.....sek. Mo mun....tah." Dengan sigap perawat ngasih keresek. 

Daan muntah... cairan kayak ludah aja. 

HAH! Pantesan. Orang yang mau dioperasi mesti puasa dulu. Biar muntahnya enggak banyak.

Kepala berat banget. Berasa habis diputar-putar. Padahal yang dioperasi ketiak. 

Operasi cuma 1 jam. Tapi efeknya begini ya. Pusing. Ketiak masih enggak berasa apa-apa.  Hanya ada yang ngeganjal aja.

Aku menghabiskan waktu 4 jam di ruang pemulihan sampai akhirnya bisa bangun dari tempat tidur. Perawatnya tanya, "masih pusing, Teh?"

"Masih... mual"

"Itu efek dari pembiusan sih. Kalau masih lemas terus, enggak kuat, nanti kita rawat semalam. Kalau kuat, boleh pulang."

Karena enggak mau ngeluarin duit aku dengan tegas, "Pulang ajaaaa. Cuma mual."

Perawatnya tersenyum, "oh iya, Teh. Beli obat ini aja ya supaya enggak mual." aku mengiyakan, padahal enggak inget nama obatnya apa. Pen cepat pulang. Ntar tanya apoteker aja lah.

Kita beres-beres. Kemudian pulang. 

Pasca operasi

Aku sengaja enggak beli obat mual karena aku pikir besok pagi mual dan pusingnya bakal langsung hilang. Ternyata enggak. Tiap gerak kayak melayang-layang. Makanan dan minuman yang masuk keluar lagi. Belum lagi luka operasi udah mulai terasa nyut-nyutan 😭

Dua hari setelah operasi, aku konsultasi dan periksa luka operasi. Dokter buka perban untuk pengecekan. Aku kira cuma dilihat dan ditutup lagi, eh dibersihin dulu dongs 😭 rasanya perih banget.

Lemes banget lah pas dokter bilang, "di dekat rumah ada perawat? Minta gantiin perbannya tiap hari ya." Apaaa? aku harus merasakan sakit seperti ini setiap hari? 😭😭😭😭

Mau gak mau, iya. Dibersihkan setiap hari. 

Perih seperti kehidupan. Belum lagi mual dan pusingnya masih ada. Aku menyerah dan membeli obat mual, ondansetron. Mujarab. Mual langsung hilang dan aku bisa makan dengan bebas.

Makan yang banyak. Menahan rasa sakit juga butuh energi banyak! 

Tips: Perbanyak protein dan vitamin C agar luka cepat sembuh.

Menuju sembuh

Seminggu kemudian, aku mulai terbiasa dengan sakit. Luka semakin membaik. Perih sudah berkurang. 

Konsultasi aku lakukan sebanyak tiga kali dan selesai. Selanjutnya, rawat luka sendiri di rumah. Ibu juga udah enggak tahan pergi ke rs. Biayanya mahal hahaha ini lah yang namanya "sakit itu mahal".

Menuju minggu ke-3, tangan sudah bisa bergerak secara optimal. Satu bulan kemudian, sembuh maksimal. Agar tangan tidak kaku, setelah operasi, tangan harus dilatih untuk bergerak normal. Walaupun perih, tahan saja.

Masalah saat pembersihan

Ada beberapa masalah yang aku temui pasca operasi. Yang paling menyebalkan adalah bekas perban. Aku dipakaikan hypafix dan kulitku jadi gatal-gatal. Merah-merah. Kotor juga bekas lemnya. Pokoknya jelek. 

Sampai sekarang aku masih berusaha membersihkan kotoran bekas perbannya. Lemnya mungkin sudah hilang, tapi kulit kotornya masih nampak. Udah aku gosok berapa kali pun enggak hilang-hilang. Masih tercetak bentukan perban.

Suatu hari, enggak ada perawat yang bisa membersihkan luka. Baru bisa dibersihkan keesokan harinya. Akibatnya, kulit-kulit merah di tempat menempelnya perban mengalami iritasi dan infeksi yang cukup bikin kaget.

Kulit melepuh seperti ditumbuhi jamur. Ada bintik-bintik berair, putih kekuningan. Rasanya gatal banget. Aku takut luka operasinya kena infeksi lagi. 

Untung, saat konsultasi dokter bilang luka operasi aman-aman aja. Trus aku ganti perban dengan micropore.

Memang pasca operasi itu ribet dan harus benar-benar rapih dalam perawatan.

Sehat

Alhamdulillah sekarang sehat wal afiat. Udah enggak diperban. Luka operasinya ya berupa sayatan aja. Emang ketiak jadi enggak seindah dulu wkwkwk 

Di sekitar sayatan terasa ada benjolan. Kakak (mantan perawat) bilang itu bukan infeksi, tapi kulit aja. Karena luka enggak dijahit, tekstur kulit enggak mulus. Yah, selama enggak menimbulkan sakit anggap aja SEHAT.

Semoga sehat selalu kita semua... 😁

Tidak ada komentar

Posting Komentar