Beauty Diary by Rahma

Bersama Penyintas Covid-19

cerita penyintas covid
Image by Surprising_Shots from Pixabay

Beberapa waktu lalu aku menjenguk teman yang baru kehilangan suami karena terinfeksi virus Covid-19. Niatnya ingin menghibur, tapi malah aku yang curhat juga dan jadi sedih. Temenku ini belum genap satu tahun menikah. Ujiannya sudah berat. Perjalanan menemani sang suami saat terkena Covid-19 sangat menguras fisik dan mental.

Urusan fisik sudah jelas ya, mengurusi alm suami yang pada waktu itu bergejala agak parah, utamanya sesak nafas, saturasi oksigen menurun. Dia mengantar ke tiap RS di Garut untuk meminta oksigen atau penanganan dan semuanya menolak. 

Suatu ketika, saat membawa suaminya yang sedang sakit itu ke RS dia malah disuruh untuk membuat laporan ke puskesmas. Ketir gak sih. Dia cewek. Bawa suami sakit dan dia sendiri juga lagi sakit (fase awal infeksi virus). Trus disuruh ke puskesmas untuk laporan. Masalahnya mereka tidak didampingi siapa-siapa lagi saat itu. Cuma sama driver online aja.

Pergi lah mereka ke puskesmas dengan harapan setelah laporan akan dikasih perawatan atau sekedar oksigen. Nyatanya? Mereka harus nunggu dulu di luar karena bergejala Covid. Beberapa lama kemudian petugas datang dan menyuruh mereka masuk untuk pendataan.

Ditanya ini itu kemudian disuruh pulang. Gitu aja. HAHAHA :')

Mereka akhirnya isolasi mandiri di rumah dengan meminta bantuan saudara untuk mencarikan tabung oksigen. Gejala yang dirasakan temenku semakin parah begitu juga dengan suaminya. Akhirnya, masing-masing keluarga memutuskan. Sang suami akan diisolasi dan diurus keluarganya, temenku juga isolasi di rumah ortunya. Mereka berpisah gitu.

Ujian mental resmi dimulai. 

Saat berjemur di lantai atas, sering melihat orang-orang sekitar berlari-lari kecil ketika melintasi rumahnya. Seolah orang-orang ingin menjauh darinya. Untuk kita yang sehat bisa dimaklumi bahwa menjaga jarak memang perlu dilakukan agar tidak tertular, tapi enggak sambil lari-lari juga kali.

Selama isoman dia terus memikirkan suaminya. Ada suatu keinginan besar untuk mengurus, tetapi terbatas keadaan. Berhari-hari kemudian si suami akhirnya dirawat di RS juga dengan kondisi yang terus menurun.

Di hari ke-13 isoman, dia merasa sehat dan langsung minta tes PCR. Begitu dinyatakan negatif dia langsung pergi ke RS untuk memantau suami yang sudah masuk perawatan intensif. Bersama kerabatnya bergantian menjaga. 

Pagi hari itu dia pulang dulu untuk sarapan. Tidak lama kabar duka sampai. Suaminya telah meninggal.

Pastinya tidak banyak orang yang datang di hari duka karena PPKM. Aku sendiri sebagai teman seperti tidak berguna. Maaf aku tidak banyak membantu. Aku baru menjenguk saat PPKM berakhir.

Temenku ini benar-benar jatuh banget. Terus berkata hal-hal negatif, pesimis, ... Utamanya sangat sensitif. Terkadang aku ingin mengobrol banyak juga, tapi takut malah bikin dia kesal atau tambah sedih. Karena kadang ada hal yang menurut kita biasa saja tapi ternyata menyakitkan bagi orang lain.

"sabar ya sabar" barangkali dia sudah kenyang dengan kata-kata itu. Kata-kata penguat apalagi yang mesti aku keluarin?

Aku cuma bilang kalau mau bercerita, selalu bisa hubungi aku. Biasanya dengan berbagi, pikiran menjadi lebih ringan. Mungkin ada kerjaan yang mau aku bantu, ya kayak grading tugas anak-anak. Kan itu lumayan gampang. 

Untuk urusan kerja ckckckck gak habis pikir juga sih. Ternyata tempat kerjanya tidak memberikan masa duka. Mungkin karena kejadiannya pas hari libur mengajar jadi gak dikasih libur atau tunjangan lain. Malah dikasih jadwal ngajar.

Memang betul, di saat orang lain kehilangan pendapatan, temenku ini malah banyak kerjaan. ya tapi hatinya remuk gitu mana ada mood buat kerja.

Kami ini pernah satu tempat kerja. D kehilangan suami. W dan D kehilangan bapak. H dan Y kehilangan ibu. Semuanya karena covid.

Sesak Covid sudah hilang. Tinggal sesak akan masalah kehidupan.
Semangat!




Tidak ada komentar